1.Lagu untik sebuah nama 1979 version
Mengapa jiwaku mesti bergetar
sedang musik pun manis kudengar?
Mungkin karena kulihat lagi
lentik bulu matamu, bibirmu,
dan rambutmu yang kau biarkan
jatuh bergerai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta
Mengapa aku mesti duduk di sini
sedang kau tepat di depanku?
Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu,
kusapa, dan kunikmati wajahmu,
atau kuisyaratkan cinta
Tapi semua tak kulakukan
Kata orang cinta mesti berkorban
Mengapa dadaku mesti berguncang
bila kusebutkan namamu?
Sedang kau diciptakan bukanlah untukku itu pasti
Tapi aku tak mau peduli
sebab cinta bukan mesti bersatu
Biar kucumbui bayangmu
dan kusandarkan harapanku
2.Camelia I
Dia, Camellia,
puisi dan pelitaku
kau sejuk seperti titik embun membasah di daun jambu
di pinggir kali yang bening
Sayap-sayapmu kecil, lincah berkepak
seperti burung camar terbang mencari tiang sampan
tempat berpijak kaki dengan pasti
mengarungi nasibmu, mengikuti arus air berlari
Dia, Camellia,
engkaukah gadis itu
yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi
di setiap tidurku?
datang untuk hati yang kering dan sepi
agar bersemi lagi hm hm bersemi lagi
Kini datang mengisi hidup ulurkan mesra tanganmu
bergetaran rasa jiwaku menerima karuniaMu
Camellia ho.. Camellia
Camellia ho.. Camellia
Camellia ho ho Camellia
Kini datang mengisi hidup ulurkan mesra tanganmu
bergetaran rasa jiwaku menerima karuniaMu
Camellia ho.. Camellia
Camellia ho.. Camellia
Camellia ho ho Camellia
3. Pesta
Pada sebuah pesta aku
kehilangan sesuatu
Bukan yang nampak di mata
tapi yang ada di dalam
hm hm ho... la la
Kalian pasti menyangka
aku jatuh cinta
Bukan itu yang kumaksudkan
Aku kehilangan diriku
Pada sebuah pesta dansa
aku merasa hilang
Langit-langit seperti berputar
hm berputar
Aku seperti bayi yang serba tak
mengerti
hm hm ho... hm la la
hm hm ho la hm o la la
Ketika seorang dara
memaksaku berdansa
Aku merasa geli sendiri
sebab, itu tak mungkin
hm hm ho... la la
Apalagi cara berdansa
mana mampu kulakukan
Sedang menyentuh kulit perempuan
aku tak berani
Pada sebuah pesta dansa
aku jadi teringat
Waktu ibuku di kampung
menumbuk padi
Sebab, musik berdetak seperti lesung
di talu
hm hm ho... hm la laa
hm hm lo la hm o la la
4.Nasihat Pengemis untuk istri dan doa untuk hari esok
Istriku, marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti
Lihat anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin pinggiran jalan
Wajahnya kurus pucat, matanya dalam
Istriku, marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan
Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti Ia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakal
Esok hari perjalanan kita
Masih sangatlah panjang
Mari tidurlah, lupakan sejenak
Beban derita lepaskan
La la la la la la la la la
Dengarkanlah nyanyi
La la la la la la la la la
Dari seberang jalan
La la la la la la la la la
Usah kau tangisi
La la la la la la la la la
Nasib kita hari ini
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan
Oh, hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu
5.Dia Lelaki Ilham Dari Sorga
Dia yang berjalan melintasi malam
adalah dia yang kemarin dan hari ini
akan selalu menjadi ribuan cerita
karena dia telah menempuh semua perjalanan
Dia berjalan dengan kakinya,
dia berjalan dengan tangannya,
dia berjalan dengan kepalanya
tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan pikirannya
Dia jelajahi jagat raya ini
dengan telanjang kaki dan tubuh penuh daki
Meskipun ia lebih lapar dari siapapun,
meskipun ia lebih sakit dari siapapun
ia menempuh lebih jauh dari siapapun
Meskipun ia lebih miskin dari siapapun,
meskipun ia lebih nista dari siapapun
Tetapi ternyata ia lebih tegak perkasa dari siapapun
Batu-batu seperti menyingkir
sebelum ia datang, sebelum ia lewat
Semak-semak seperti menguak
sebelum dia injak, sebelum dia menyeberang
Ia berjalan dengan matanya,
ia berjalan dengan perutnya,
ia berjalan dengan punggungnya
tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan fikirannya
Gadis-gadis selalu menyapa
karena dia tampan meskipun penuh luka
Kata-katanya tak bisa dimengerti
Tetapi selalu saja akhirnya terbukti
ia lelaki gagah perkasa,
ia lelaki ilham dari sorga,
ia lelaki yang selalu berkata,
"bahwa kita pasti akan kembali lagi kepadaNya."
du du du du du du du du du du du du
6. Jakarta I
:Selamat pagi padamu, Jakarta
:di pintumu kau tak sambut tanganku
:Hanya suara tawamu kudengar parau, Jakarta
:dan nafasmu gemuruh gemerlapan
:Seperti sengaja kau ciptakan untukku
:Sementara, masih tersisa gema doa di mulutku
:Inikah Jakarta? Hanya beginikah sikapmu Jakarta?
:Atau aku yang salah bila kukatakan kau tak ramah?
:Debu-debu panas di jalanan
:nampak sepi dari cinta dan kasih sayang
:Tidak seperti di kampungku yang hijau
:Di sini takkan kutemui lagi suara seruling
:yang ditiup lelaki kecil sambil berbaring
:di punggung kerbau yang digembalakannya
:Atau nyanyian bambu-bambu seperti musik simfoni
:mengiringi anak-anak telanjang bermain
:Berkejaran di pematang basah
:Selamat malam padamu, Jakarta
:Di manakah kau sembunyikan kekasihku?
:Atau mataku yang tak mampu lagi mengenali wajahnya?
:Sebab, tak ada bau lumpur dan rumput di rambutnya
:Seperti ketika dia masih tinggal di kampung
:Suka bercanda berdua di bawah malam purnama
:Inikah Jakarta? Hanya beginikah kiranya Jakarta?
:Kau cambuk punggung siapa saja
:yang kalah atau yang tetap bertahan
:Bahkan di sini matahari seperti
:enggan terbit dari timur lagi
:Tidak seperti di kampungku yang damai
:Matahari selalu terbit dari sela bukit biru
:Dengan warna kuning kemerahan di atas hijau dedaunan
:Di bawah burung-burung mulai berterbangan
:Di sini aku makin rindu kampungku
:Di sini aku makin cinta kampungku
:Bersabarlah akan kutundukkan Jakarta untukmu
7. Hidup I (Pernah Kucoba Untuk Melupakan Kamu)
:Pernah kucoba untuk melupakan Kamu
:dalam setiap renunganku
:Melupakan semua yang Kau goreskan
:pada telapak tanganku
:Dan juga kucoba untuk meyakinkan fikiranku
:bahwa sebenarnya Engkau tak pernah ada
:Bahwa bumi dan isinya ini tercipta karena
:memang harus tercipta
:Bahwa Adam dan Hawa tiba-tiba saja turun
:tanpa karena makan buah khuldi dahulu
:Dan aku lahir juga bukan karena campur tanganMu
:Hanya karena ibu memang seharusnya melahirkanku
:Hanya karena ibu memang seharusnya melahirkanku
:Tetapi yang kurasakan kemudian
:hidup seperti tak berarti lagi
:Dan ternyata bahwa hanya kasih sayangMu
:yang mampu membimbing tanganku
:Oh, yang mampu membimbing tanganku
:Tuhan, maafkanlah atas kelancanganku
:mencoba meninggalkanMu
:Sekarang datanglah Engkau bersama angin
:Agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu
:Agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu
:Tuhan, maafkanlah atas kelancanganku
:mencoba meninggalkanMu
:Sekarang datanglah Engkau bersama angin
:Agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu
:Agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu
8. Hidup II (Obsesi KP I/203)
:Malam ini aku mesti pulang
:untuk segera tidur di kamarku yang gelap
:Meskipun sebenarnya aku ingin tetap tinggal
:untuk menikmati bintang, untuk menikmati bulan
:Sebentar lagi, Kasih, beri aku waktu
:untuk sekedar mengucapkan selamat malam
:Meskipun aku tak dapat melihat wajahMu
:tapi hembusan angin cukup menyatakan
:kehadiranMu untukku
:Dan sekarang aku telah tidur sendiri di kamarku
:yang gelap dan dingin, penuh angan-angan
:Dan sekarang aku telah pulang kembali ke rumah
:yang kotor dan kecil, penuh cita-cita
:Di sinilah, di kamarku yang gelap ini
:Aku ingin menumpahkan kerinduanku
:Di sinilah di kamarku yang dingin ini
:Aku ingin menangis di pangkuanMu
:Hari ini aku pergi sembahyang
:untuk mendekatkan diri kepadaMu
:Semoga Kau tahu apa yang kumaksudkan
:Semoga Kau lebur dosa dan kekhilafanku
9. Berjalan Di Hutan Cemara
Berjalan di hutan cemara
langkahku terasa kecil dan lelah
makin dalam lagi
'ku ditelan fatamorgana
Tebing tanah basah di pinggir jalan setapak
seperti garis wajahMu
teduh dan kasih
makin dalam lagi
'ku dicengkam kerinduan
Kabut putih melintas di jalanku
jarak pandangku dua langkah ke depan
ada seberkas cahaya
menembus rimbun dedaunan
Sanggupkah menerangi jalanku?
Dan aku berharap
kapankah kiranya
aampai di puncak sana?
Aku 'kan bertanya, "Siapa diriku?"
aku 'kan bertanya, "Siapakah Kamu?"
aku 'kan bertanya, "Siapa mereka?"
aku 'kan bertanya, "Siapakah kita?"
10. Episode Cinta Yang Hilang
Ke manakah akan kucari lagi
butir-butir cintaku yang lama kubuang?
Apakah pada gelombang lautan
atau hiruk pikuk jalanan?
Semua sungai ingin kususuri,
semua bukit akan kudaki,
semua padang belantara akan kutembus
Harus kutemukan lagi sebutir cintaku yang hilang
ditelan dusta kemarau panjang
Kapankah akan kudengar lagi
nyanyian angin dan denting gitarmu?
Apakah pada pancaran rembulan
atau tubuh-tubuh panas jalanan?
Semua bumi ingin kujejaki,
semua langit akan kudaki,
semua bintang-bintang akan kutembus
Harusku temukan lagi sebutir cintaku yang hilang
Ditelan dusta kemarau panjang
